
Chapter
6
“Akan
ku kembalikan apa yang seharusnya jadi milik gue”
Yuhuuu langsung aja ya …
Sesampainya dirumah Gea, Rei langsung
pamit Gea tahu apa yang sedang Rei pikirkan sepanjang perjalanan tadi, namun
dia tak berani untuk bertanya sebelum Rei duluan yang bicara. Saat tiba dikamar
Gea langsung merebahkan badan ditempat ternyamannya, sesaat bayangnanya kembali
pada kejadian tadi dirumah Dilan, tidak bisa dipungkiri Gea benar-benar
merindukan orang itu juga. Saat pukul 7 malam Gea sedang membaca novel disofa
didalam kamarnya Tiba-tiba handphonenya mendapat notif satu pesan dan ternyata
itu dari Dilan.
Dilan
Nata Danishwara
Lo
lagi dimana? Gue kerumah lo sekarang!
Mata Gea terbelalak melihat pesan itu,
dia bingung untuk menjawabnya dan membiarkan pesan Dilan. Gea benar-benar
khawatir, gugup dan bingung kalo sampe Dilan benar-benar datang kerumahnya ia
harus berbuat apa? Apa dia jawab saja sedang tidak ada dirumah? Tapi apa dilan
bakal percaya? Oh ya tuhan Gea benar-benar bingung harus bersikap seperti apa
jika bertemu Dilan.
Dan benar saja tiba-tiba Bi Sari
mengetuk pintu kamarnya dan memberitahukan bahwa ada Den Dilan dibawah. Bi Sari
sudah mengenal Dilan sejak kecil karena bi Sari Memang sudah bekerja puluhan
tahun dirumahnya Gea, dan menemani Gea saat mamah papanya banyak kerjaan diluar
kota.
”ya, ampun gue harus gimana ini?”
gerutu Gea. Lalu kemudian Geapun turun dan menghampiri Dilan yang ternyata
sedang bermain bersama si Embul, Kucing kesayangan mamanya. Gea pura-pura batuk
dan menyadarkan Dilan yang tengah asik sama si Embul. “eh, lo udah Turun”
ujarnya.
“lo mau ngapain kesini?” Tanya Gea
langsung.
“si Embul gak berubah ya? Dia tetep
gembul lucu kek dulu” ujar Dilan mengalihkan pertanyaan Gea.
“Lan! Ngapain lagi sih?” Tanya Gea
sedikit meninggi. Lalu Dilanpun menjawab.
“Gue pengen maen aja kerumah lo lagian
udah lama banget kan gue gak kesini? Atau karena lo udah sama rei sekarang gue gak bisa kerumah ini lagi?”
ujarnya.
“lo apaan sih bawa-bawa Rei terus?
Bukannya lo sendirikan yang mutusin pergi dulu” gerutu Gea akhirnya. Merekapun
terdiam sesaat lalu Dilan mendekati Gea,
“Gue Cuma kangen sama lo ge, lo gak
tahu gimana perasaan gue saat tahu ternyata lo jadi milik oranglain” ujarnya
lirih. Gea benar-benar gak nyangka Dilan akan mengatakan itu
”Lan Plis jangan bahas ini!”.
“Gue gak bisa Ge. gue gak bisa
pura-pura baik –baik aja dihadapan lo.
ngelihat lo sama Dia. Gue gak bisa” tegas Dilan.
Gea sedikit terpancing emosi karena
Dilan terus saja berbicara seolah dirinya gak bersalah, “kalo lo dulu udah
mutusin buat pergi. Harusnya lo sadar suatu hari hal ini pasti terjadi” ujar Gea.
“dan lo gak mau nunggu!” tegas Dilan. Gea gak habis pikir kenapa bisa Dilan
Seegois itu.
“bertahun-tahun tanpa ada kabar, lo
mau seseorang nunggu lo? Bahkan lo pergi tanpa penjelasan, Lan. Nyatanya, Hujan
Lebih baik dari pada lo. Dia datang dan pergi dengan memberi tanda. Gak seperti
lo yang melakukan semuanya dengan Tiba-tiba” jelas Gea.
“Gue bisa Jelasin Ge. kenapa gue gak
pernah ngasih kabar sama lo”.
“Lan, bagi gue semua udah berakhir
sejak lo pergi” ucap Gea.
“tapi buat Gue belum Ge. lo tahu
perasaan gue sama lo sejak dulu dan gue tahu perasaan lo gimana. Gue kenal diri
lo lebih dari sipapun”.
“pliss lan, udah. Gue gak mau Rei salah paham
dengan hubungan kita, dan gue gak mau Rei tahu apapun tentang kita bukan karena
gue masih punya perasaan sama lo. Tapi karena gue gak mau nyakitin dia. Lo gak
tahu selama ini usaha dia buat ngehibur gue” ujar Gea. “dan lo sama sekali gak
peduli tentang kita?” lanjut Dilan.
Gea tersenyum Sinis,
“Tentang kita? Gue bahkan gak ingat
kita pernah ada hubungan apa selain sahabat”.
“Ge!” ucap Dilan sedikit bentakan.
“apa? Gue ga salah ngomong kan? Lo itu
egois lan setelah Cuma lo sendiri yang ngungkapin perasaan lo dan ngebuat gue
bingung sendiri dan tiba-tiba aja lo pergi
tanpa dengerin apa yang pengen gue sampain hari itu. dan lo masih minta
gue peduli tentang kita? Lo sadar donk!”
Dilan Menarik nafasnya dia tahu dia
salah dia egois namun seandainya posisinya sekarang gea gak dengan Rei mungkin
Dilan akan mengalah dan meminta maaf, tapi hatinya benar-benar gak bisa
melakukan itu saat ini, dilan hanya berpikir menyalahkan Gea karena tidak bisa
menunggunya dan lebih memilih bersama Rei itu membuat rasa egois nya
benar-benar tinggi saat ini.
“tapi pada akhirnya gue kembali buat
lo Ge, lo harus tahu itu. Dan meski sekarang lo bersama Rei, Gue bakal balikin
lagi apa yang seharusnya jadi milik gue!” ucapnya dengan nada serius, sambil
melangkah pergi meninggalkan Rumah Gea.
Setelah sedari tadi mereka berbicara
tanpa duduk, Gea pun tersungkur di sopa dia menarik nafasnya dalam-dalam
menahan buliran air mata yang hampir jatuh di pipinya.
Gea tahu dia salah dia gak mau
dengerin penjelasan Dilan, tapi apa boleh buat meskipun dia sangat
merindukannya keadaannya saat ini dan kekecewaanya tehadap Dilan sedang merajai
perasaaanya.
Dilan
membawa mobilnya melaju sangat kencang membelah jalanan ibu kota, dia marah?
Jelas. Dan CITTTTTT…. Dia menepikan mobilnya dipinggir jalan. Bugh.. dilan memukul stir mobilnya dan
kepalanya langsung tertunduk pada pegangan stir. Dilan bingung dia tahu dia
egois, tapi dilan tetap tidak bisa melepaskan Gea.
Tiba
– tiba suara Handphone Dilan berbunyi ternyata Ben Telepon dia memberitahu
Dilan Bahwa Ben dan yang lainnya sedang berada di café kak vito dan langsung
menyuruhnya datang.
CafĂ© kak Vito…
Saat dilan datang dia sudah disambut
lemparan kaleng minuman dari Ben, dilan langsung menerimanya, membukanya duduk
dan langsung meneguknya habis. seperti orang kehausan.
“Kenapa lo? Haus” ujar Ben.
Yosi dan tiara langsung melirik Dilan
yang hanya terdiam bersandar pada sofanya dan menutup mata.
“Kenapa Dia?” Tanya Tiara.
“tahu gue pas tadi gue telepon keknya
bae – bae aja tuh” jawab Ben.
“habis dari mana lo?” Tanya yosi.
Dilan hanya menjawab dengan gumaman.
“apasih kagak denger gue” ujar yosi
lagi. Mereka hanya membiarkan Dilan seperti itu sampai dia sendiri yang mulai
bicara.
“ra, si rossa kemana?” Tanya Ben.
“dia bilangsih katanya ntar nyusul
tapi tahu dah tuh anak kenapa jam segini belom nongol juga”
Tiba – tiba Dilan mengeluarkan
ponselnya dan ntah apa yang sedang dia tulis diponselnya sampai sefokus itu.
Dilan N
Danishwara
“Akan
ku kembalikan apa yang seharusnya jadi milik gue”
Ternyata Dilan memposting sebuah foto,
saat bersama gea dulu, dipostingan itu tertulis “akan ku kembalikan apa yang
seharusnya jadi milik gue”. Sontak postingan tersebut mendapat respon dari
banyak orang terutama banyak yang bertanya siapa gadis itu, karena wajah gea
disana sengaja Dilan Blur kan. Tapi yang jelas sahabat-sahabatnya tahu jelas
bahwa itu gea.
Beberapa saat kemudian tiara mendapat
telpon dari rossa, dengan suara cemprengnya dia bertanya sangat tergesa-gesa
pada tiara,
“hallo sa”
“hallo ra, lo masih di cafĂ© kan? Dilan
disana gak?”
“apaan sih lo nanya pelan – pelan kali,
lagi di kejar anjing lo!”
“ih gue seriusan ra, Dilan disana gak?
“iya ada disini, kenapa emangnya? Lagian
lo masih dimana sih katanya tadi udah mau otw masih aja belom nyampe juga”
“iya sory-sory ra, gue ada urusan
mendadak mesti nganterin nyokap ke rumah tante gue. Tapi yang paling gawat
sekarang tuh bukan tentang gue ra. Pokoknya sekarang lo buka ig terus liat
postingannya si Dilan cepetan!”
“ngapain sih? Emang ada apa?”
“udah bawel jangan banyak nanya,
sekarang lo buka aja cepetan!”
“iya-iya cerewet gue buka sekarang. Ya
udah gue tutup yah. Bye!”
“kenapa sih?” Tanya yosi.
“gak tahu tuh anak nyuruh gue buka ig”
jawab tiara yang langsung membuka aplikasi ig nya. Dan setelah dibukanya “OMAYGAT!”
“apaan sih ra penasaran gue” kata Ben
yang langsung berpindah duduk disamping Tiara, sedangkan Dilan dirinya masih
saja focus pada Ponsel dan komentar-komentar tentang apa yang baru saja di
postingnya.
Sesaat setelah Ben, Tiara dan Yosi
membaca postingan Dilan itu mereka bertiga terdiam dan saling pandang kearah Dilan.
Dilan yang merasa dirinya tengah dipandangi oleh sahabat- sahabatnya itu
akhirnya menutup ponselnya.
“kenapa lo pada ngeliatin gue kek
gitu?”
“wah… Gila lo Lan!” ujar Ben.
“Parah banget lo !’ tambah Yosi.
“kok gue baper yach! uuuccchhh” kata
Tiara.
“lo pada kenapa sih, gak ngerti gue!”
Kemudian,
Ben memperlihatkan layar handphone tiara didepan muka Dilan. Meminta penjelasan
dilan dari postingan itu.
“oh ini! Gue pikir ada apa!” jawabnya
santai.
“What? Hello mas broooo. OH INI ! GUE
PIKIR ADA APA. Sesantai itu lo jawab!”
“jijik gue. Sejak kapan lo jadi alay
kek gini” kata Dilan.
Ben yang tadinya berdiri langsung
terduduk tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan sahabatnya itu.
“sahabat lo tuh yos! Balik dari London
bukannya sembuh kayaknya makin parah gilanya” ujar Ben. Yang langsung dihadiahi
lemparan bantal oleh Dilan.
“sialan lo!”,
“tahu ah pusing gue, gak ikutan!” ujar
Yosi.
Dan mungkin disini Cuma tiara yang
masih terbawa suasana oleh postinganya Dilan itu.
“uuuhhh yang takut kehilangan sampe
segitunya, kenapa gak sekalian aja mukanya lo pajang bebas”
“sabar! Pasti kok. Ini baru awal” ujar
Dilan sambil mengeluarkan senyum smirknya.
NB:
Anggap saja wajahnya gea difoto itu diblur yaa, gak sempet ngedit fotonya duh
:D